August 19th, 2008 by radiktya-asthea
cheeeeeeeers……….
smile………………
merah,
jingga,
kuning,
hijau,
biru,
nila,
ungu,
memutih…..
hoi..ndhul…. lo ga baca blog gw yang terbaru ya….???????????? menyentuh banget! gw ga nyangka kalo gw bisa seromantis itu. wue..kek..kek..kek…
sayang baget gw g bisa dateng ke nikahnan lo. padahal gw pengen bgt ketawa di depan mik, menyaksikan akad lo ma kembaran gw si bapak luk-luk. hue…he..he..he…
tp gpp. tenang aja, kado pernikahan kalian bakal nyampek. entah di jakarta, entah di semarang….
btw, jangan gendut-gendut bu!
hwuuaaaaaaaaaaaaaaaaa……
gw sendiri lagi neh…menyusuri jalan yg belum selese…..
it’s really hard to say goodbye…
Aku masih saja tak percaya bahwa
cintaku padamu begitu besar adanya. Dan aku juga tak percaya bahwa perpisahan
itu akan segera tiba. Sungguh, aku tak menyangka bahwa cintaku padamu begitu
dalam menghunjam. Hingga untuk membayangkan perpisahan saja, aku tak sanggup.
Ada
perih yang merintih dan air mata yang jatuh tak terasa. Tapi kita memang harus
berpisah. Karena harus demikian adanya. Aku akan pergi ke pulau seberang dan kau akan menikahi seseorang.
Terimakasih untuk semua kebersamaan yang telah kita lalui berdua.
Terimakasih telah mengisi hari-hariku dengan canda tawa. Terimakasih telah
menjadi lilin dalam gelapku. Terimakasih telah menjadi mawar dalam padang ilalangku.
Terimakasih telah menjadi oase dalam gurun gersangku.
Aku akan merindukan saat-saat itu. Saat makan berdua di warung
tegal. Saat kita rebutan MOMOGI.
Saat duduk berdua di depan toko 57 sambil minum susu keledai. Saat kita tertawa
berdua saja sementara yg lain diam karna tak mengerti apa yang kita tertawakan.
Saat ngebut boncengan dengan sepeda motor dan kau pasrah saja menerima nasib.
Saat berada di Gramedia dan kita sakauw sendiri karena tidak bisa membeli buku
mahal. Saat kau menunjukkan hasil kuliahmu di fakultas bahasa menusuk. Saat
kita menghindari tukang parkir. Saat orang-orang bertanya-tanya tentang makna
”kemesraan” kita
Saat….saat…saat…ah…terlalu
banyak saat itu…..
Aku akan merindukanmu. Mie telormu. Lengkingan teriakanmu. Kekonyolanmu.
Psikosomatismu. Nyanyian sopranmu. Plin-plan mu. Girl-things mu. Kelembutanmu.
Kesabaranmu. (sudah…sudah…cukup…aku tak tega jika kepalamu membesar tak
terkendali)
Mungkin perpisahan memang harus terjadi. Mungkin kita memang harus tidak
bersama lagi. Tetapi kau akan selalu disini. Di dalam sini. Dan seperti lagunya
Icha feat Ajeng, jika tidak ada hari esok lagi, bila tinggal sedikit saja waktu
untuk kita berdua, maka aku akan
mengatakan bahwa AKU MENCINTAIMU.
Honey bunny sweety… it’s really hard to say goodbye….
Mungkin aku memang senang diam membisu
tapi aku bukan batu
Mungkin aku slalu menerima keluh kesah
tapi aku bukan tempat sampah
Mungkin aku sering tertawa gembira
tapi bukan berarti aku tak pernah kecewa
Mungkin kau kira aku manusia baja
tapi sayangnya aku manusia biasa yang bisa terluka
dan adakah kau merasa?
dan bilakah kau mengerti?
Aku bahagia
ketika akhirnya kau mengucapkannya
Namun kemudian lara tercipta
karena ternyata itu hanyalah kata-kata belaka
Aku tak ingin mencintaimu,
Meski hanya setetes,
Meski hanya sedetik,
Meski hanya sesaat,
Aku sungguh tak ingin mencintaimu
Aku tak ingin kau memasuki hatiku
meski mengetuk pintunya pun,
sungguh aku tak mau
Aku tak ingin kau mengambil hatiku
Secuilpun sungguh aku tak rela
Namun sayangnya…
Aku mencintaimu dalam setiap detik hidupku
Kau mengalir bersama setiap tetes darahku
Kau telah mengambil hatiku
Seluruhnya, tak tersisa
Dan kau hanya membisu
Tak mau tahu
Bangsat!
Sungguh, kau tak punya kesalahan apa-apa padaku.
Hanya saja…aku tak bisa membuang perasaan ini padamu.
Sungguh, kau tak perlu risau untuk membuatku
mengerti. Hanya saja..aku terlalu bebal untuk memahami hubungan kita yang
sebenarnya hanya biasa saja.
Sungguh, kau tak perlu galau dengan rasaku itu.
Karena aku hanya menyimpannya rapat-rapat dalam hati saja. Hingga kau pun tak
akan pernah tahu.
Sebenarnya, aku bisa saja membuang rasa itu
jauh-jauh atau menguburnya dalam-dalam. Tapi aku tak mau. Terlalu berat untuk
melepas rasa itu, rasaku padamu. Karena aku selalu seperti berada di negeri
awan dan menari diantara pelangi saat mengenangmu. Mengenangmu yang tak
pernah mengingatku.
Ada
indah yang
merekah. Meski bersama itu pula ada segores perih yang merintih. Tapi aku suka.
Mengenangmu, meski semua
kenangan itu hanya fragmen biasa bagimu, selalu saja membuatku bergetar. Dan
aku tak mau menghentikan getaran itu. Getaran yang bisa membuatku merasa
benar-benar hidup. Meski pada akhirnya aku merasa benar-benar hidup…semu.
Di
pinggir sepi aku bernyanyi
Tentang
lagu sunyi
Hidupku
yang sendiri
Di
pinggir sepi aku menyapa
Sebongkah
luka yang masih menganga
Di
pinggir sepi aku bertanya
Sungguh
beginikah hidup adanya
Katamu
tak teresap
Laraku
tlah terendap
Pinta
tak berguna
Duka
tlah tercipta
Berakhirlah
semua
Di
sini saja